
Kebanyakan perokok mengetahui risiko buruk terhadap kesehatan yang ditimbulkan dari merokok. 70 % perokok ingin berhenti untuk menghindari memburuknya kondisi kesehatan, namun WHO memperkirakan hanya kurang dari 5% perokok yang mencoba berhenti tanpa bantuan, yang pada akhirnya berhasil tidak merokok selama 1 tahun.
Diperkirakan, mereka yang kembali merokok sebetulnya bukan karena pilihan mereka sendiri, melainkan karena sifat nikotin yang menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan akan nikotin yang disebabkan oleh merokok ini merupakan masalah kesehatan kronis yang berulang.
Sifat adiksi pada nikotin yang terdapat di dalam rokok, ketergantungan fisiologis maupun psikologis akibat merokok, merupakan penyebab mengapa terkadang orang harus mencoba berhenti berulang kali untuk dapat berhenti total.
Menurut Dr. Tribowo T Ginting, SpKJ, Dokter Spesialis Kejiwaan dari Rumah Sakit Persahabatan, ”Dibandingkan kokain dan morfin, nikotin adalah sebuah komponen yang kecanduannya (adiktif) 5 - 10 kali lebih kuat menimbulkan efek psikoaktif pada manusia. Beban yang ditimbulkan diantaranya adalah turunnya produktivitas, beban ekonomi, sosial, kesehatan dan akhirnya menyebabkan kematian. Untuk mendukung perokok berhenti merokok dan pada akhirnya menekan angka mortalitas yang disebabkan oleh rokok, dibutuhkan solusi terapi terpadu yang intensif dengan kemudahan akses dan dukungan penuh dari lingkungannya.”
Terpicu oleh realita ini, Pfizer Indonesia berusaha membantu mereka yang berkeinginan kuat untuk berhenti merokok dengan meluncurkan Quitters Are Champions, sebuah program kompetisi berhenti merokok secara terpadu di bawah pengawasan tim medis dari instansi kesehatan.
CPX/TAB/New_Website_Content_2/POA1/03/05/2010