Mona*, seorang aktris dan ibu muda berusia 37 tahun, telah merokok sejak berusia 15 tahun. Ketika dia berusia 30 tahun (dengan kebiasaan merokok satu setengah bungkus per hari), dia memutuskan untuk berhenti. Dia menuliskan perjalanannya berhenti merokok di bawah ini:
Pada ulang tahunku yang ke-30, aku tahu aku harus berhenti merokok. Tapi berhenti itu susah sekali, apalagi aku sudah terbiasa mengisi waktu dengan merokok. Rasanya pikiranku kosong kalau tidak merokok. Lalu aku bertemu dengan lelaki yang menjadi suamiku sekarang. Dia adalah seorang spesialis paru-paru, dan aku merasa sangat bersalah menjadi pacarnya yang merokok sementara dia berusaha mengobati penyakit yang diakibatkan kebiasaan tersebut. Dia akhirnya berkata padaku,”Aku ingin menjalani hidup bersamamu, tapi aku rasa aku tidak dapat melakukannya dengan seorang perokok.” Saat itulah aku memutuskan bahwa kehidupan bersamanya jauh lebih penting daripada hidup bersama rokok, dan aku mulai mencari bantuan untuk berhenti merokok.
Melalui program berhenti merokok yang kuikuti, salah satu bagian terbaiknya adalah menulis cerita secara online. Setiap kali aku menyelesaikan satu tahap dalam program, aku bisa menuliskan ceritaku di forum dan membaca kabar dari teman-teman yang sedang mencoba berhenti juga. Yang paling berkesan buatku adalah, ketika aku sangat ingin merokok, aku menuliskan perasaanku di forum dan akan ada seseorang (yang bahkan tak kukenal!) yang meresponsnya dan mendukungku untuk tidak menyerah. Buatku, cara ini adalah cara yang sangat nyaman (dan orang lain tak perlu tahu siapa diriku sebenarnya) untuk menuliskan keluh kesahku, perjuanganku, ketergantunganku terhadap rokok, serta bagaimana rokok telah membelengguku, tanpa harus merasa malu atau dihakimi. Inilah yang akhirnya menjadi “senjataku” untuk berhenti merokok sepenuhnya.
Benar, menuliskan perasaan dan keluh kesah Anda selama berhenti merokok bisa menjadi alat yang sangat penting untuk membantu Anda berhenti. Ada banyak program berhenti merokok yang memasukkan program menulis buku harian, catatan, dan cara lainnya untuk membantu Anda menuliskan pengalaman Anda, baik di jurnal, di lembar kertas biasa, atau secara online.
Mengapa hal ini penting? Karena dengan menuliskan jurnal Anda, Anda bisa mengidentifikasi pola kebiasaan / pemicu Anda untuk merokok. Misalnya, “Habis makan siang, dan sebentar lagi meeting. Duh, aku pingin banget merokok sebelum meeting.” Dari sini, Anda akan melihat bahwa “masa ketagihan” yang terutama adalah setelah makan siang, sehingga Anda bisa merencanakan apa yang selanjutnya akan Anda lakukan pada waktu tersebut untuk mengatasi keinginan merokok tersebut.
Menulis tidak saja membantu Anda mengidentifikasi masa-masa sulit dan rintangan yang Anda hadapi untuk berhenti, hal ini juga bisa membantu meredakan emosi Anda yang bergejolak ketika berhenti merokok. Beberapa peneliti sedang mempelajari pentingnya memiliki catatan harian atau sarana lain sebagai tempat pelepasan emosi Anda, misalnya lewat blog atau forum, untuk membantu berhenti merokok.
“Satu hal yang saya tahu pasti, menulis akan sangat membantu Anda. Menulis membuat dedikasi Anda untuk berhenti merokok menjadi lebih kuat dan memberikan Anda penyaluran ketika Anda merasa kesal atau segalanya tampak sulit untuk dilakukan,” tulis Tony, salah seorang teman yang menuliskan perjalanannya berhenti merokok secara online.
“Kami paham bahwa menuliskan perasaan Anda sangat membantu memulihkan kondisi dan adiksi tertentu, khususnya bagi mereka yang dipenuhi luapan emosi,” ungkap Lirio Covey, PhD, direktur klinik berhenti merokok di Columbia University, New York.
Nah, bagaimana caranya memanfaatkan blog, email, jurnal, atau cara lainnya untuk menuliskan pengalaman / perjalanan Anda dalam berhenti merokok? Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda lakukan:
Selamat menulis!
Referensi:
* Nama dan kejadian adalah fiksi.
Add New Comment
Required: Please login to post comments or replies